Media massa arus utama atau mainstream media hingga kini masih memegang kendali krusial dalam peta politik nasional. Melalui teori agenda setting, media memiliki kemampuan unik untuk tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengarahkan apa yang harus dianggap penting oleh masyarakat. Kekuatan ini bekerja secara konsisten setiap harinya melalui kurasi berita yang ketat dan penekanan pada isu-isu tertentu.
Mekanisme Kerja Agenda Setting di Media Arus Utama
Proses penetapan agenda dimulai dari meja redaksi. Setiap pagi, para editor dan produser berita melakukan seleksi terhadap ribuan peristiwa yang terjadi di seluruh penjuru negeri. Peristiwa yang dipilih untuk menjadi “berita utama” atau headline secara otomatis mendapatkan validasi sebagai isu prioritas nasional. Ketika sebuah isu dibahas secara berulang oleh berbagai stasiun televisi, surat kabar besar, dan portal berita kredibel, masyarakat mulai memandangnya sebagai masalah mendesak yang membutuhkan perhatian pemerintah maupun publik.
Kekuatan Narasi dan Pembentukan Opini Publik
Kekuatan media massa arus utama terletak pada salience transfer, yaitu perpindahan tingkat kepentingan suatu isu dari media ke benak khalayak. Media tidak secara langsung mendikte apa yang harus dipikirkan orang, tetapi mereka sangat sukses mendikte apa yang harus dipikirkan oleh orang banyak. Dengan memberikan ruang lebih besar pada isu korupsi, kebijakan ekonomi, atau kontestasi pemilu, media menciptakan sebuah lingkungan diskusi yang seragam di tengah masyarakat. Hal ini memaksa para elit politik dan pengambil kebijakan untuk bereaksi terhadap isu yang sedang “digoreng” oleh media tersebut agar tidak kehilangan relevansi di mata pemilih.
Validitas dan Kredibilitas Sebagai Pembeda Utama
Di tengah gempuran informasi dari media sosial, media arus utama tetap menjadi rujukan utama karena aspek kredibilitas dan verifikasi. Berbeda dengan konten viral di media sosial yang sering kali bersifat subjektif atau tanpa konfirmasi, media mainstream bekerja dengan standar jurnalistik yang baku. Kepercayaan publik terhadap institusi media besar inilah yang memperkuat posisi mereka dalam menentukan arah kebijakan nasional. Sebuah isu mungkin berawal dari media sosial, namun ia baru akan dianggap sebagai agenda politik formal setelah diadopsi dan dianalisis secara mendalam oleh media arus utama.








